GELANDANG Barcelona, Xavi Hernandez tak ingin Pep Guardiola hengkang dari kursi kepelatihan Blaugrana. Menurutnya, Barca masih membutuhkan sentuhan dan berharap pelatih yang sukses membawa 13 trofi buat Tim Catalan itu tetap bertahan di Camp Nou.
"Sangat penting ia terus di sini. Menurut saya, dia adalah tokoh kunci, dan bahkan mungkin orang yang paling penting di klub," ujar Xavi kepada Gol TV, Jumat (20/4).
Guardiola menggantikan Frank Rijkaard sebagai pelatih Barca di musim panas 2008 yang saat itu gagal mempersembahkan trofi. Ketika ditangani pria berusia 41 tahun itu, ia menjadi pelatih tersukses melebihi prestasi Johan Cruyff dengan 13 trofi.
Bareceloan dalam catatan prestasinya selama ditangani Guardiola telah menjuarai tiga kali La Liga dua Liga Champions, dua gelar Piala Dunia Antarklub, satu Copa del Rey serta berbagai penghargaan Piala Super.
Meskipun kontrak kepelatihannya akan berakhir musim ini, namun Guardiola belum juga menentukan masa depannya di Barcelona. Karenanya, kabar kepindahannya ke klub Inggris dan Italia terus berkembang, seiring belum adanya perpanjangan kontrak dengan manajemen Barcelona.
Namun apapun itu, Xavi akan menerima keputusan Guardiola, jika benar-benar harus meninggalkan Barca. "Kami benar-benar ingin dia tetap di Barcelona. Namun, pada akhirnya dia sendiri yang akan memutuskan," pungkasnya.
Tampilkan postingan dengan label Josep Guardiola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Josep Guardiola. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 April 2012
Jumat, 20 April 2012
Cara Menang Tanpa Menguasai Bola
KOMPAS.com - Berbagai macam ulasan teori soal taktik menaklukkan Barcelona kerap disampaikan. Di atas kertas, semua teori terlihat mudah dan bisa dilakukan. Namun, di lapangan, tidak banyak tim yang mampu menerapkannya meski rencana telah disusun matang.
Chelsea, yang belum pernah juara Eropa, salah satu dari sedikit tim yang mampu menerjemahkan imajinasi soal bagaimana meruntuhkan keperkasaan Barcelona. Permainan mereka saat memukul Barca 1-0 di Stamford Bridge pada laga putaran pertama semifinal Liga Champions, Kamis (19/4) dini hari WIB, mengingatkan taktik Inter Milan saat menyingkirkan klub Catalan itu di semifinal 2009/2010, soal bagaimana memenangkan laga tanpa harus menguasai bola.
Lihatlah statistik laga: Barcelona mencatat 72 persen penguasaan bola dengan menyelesaikan 782 passing berbanding 28 persen Chelsea dengan hanya 194 passing. Upaya Barcelona mencetak gol berjumlah 18 kali (enam kali tepat sasaran ke arah gawang) berbanding dengan upaya Chelsea yang hanya empat kali dan hanya satu tepat sasaran ke gawang tetapi menjadi gol. 1-0 untuk Chelsea!
Bagaimana cara memenangkan laga tanpa harus menguasai bola? Rumusan taktik itu pernah diulas kolumnis sepak bola Gabriele Marcotti dalam majalah Champions edisi Februari/ Maret 2011, yang merefleksi sukses Inter membekuk Barcelona di semifinal sebelum akhirnya menjuarai Eropa 2010.
Kunci sukses
Taktik itu bisa berjalan sukses dengan menghindari cara bertahan yang terlalu dalam, lalu mencegah untuk melakukan banyak pelanggaran. Bertahan terlalu dalam hanya akan mengundang lawan untuk terus menekan, yang satu-dua kesalahan bisa berisiko jebolnya gawang sendiri.
”Anda harus mampu menutup ruang gerak lawan seluas mungkin dan membatasi munculnya ancaman sebanyak mungkin,” demikian Roberto Di Matteo, pelatih sementara Chelsea, merumuskan taktik permainan timnya. ”Ini bukan soal lini pertahanan, melainkan usaha keras tim untuk tampil defensif.”
Pertahanan ”The Blues” telah disusun dari lini tengah. Chelsea bermain dengan tiga gelandang jangkar—Raul Meireles, Frank Lampard, dan John Obi Mikel— plus Juan Mata dan Ramires yang berposisi melebar. Lampard jarang naik dan lebih banyak beroperasi di area timnya.
Obi Mikel, yang biasa berperan gelandang bertahan untuk melapis lini belakang, justru sering naik untuk menetralisir sang maestro passing, Xavi Hernandez. Taktik ini, antara lain, yang membuat tiki-taka Barcelona mandul dan mejan.
Lionel Messi berhasil diisolasi dari rekan-rekannya. Ia terpaksa turun menjemput bola. Pada suatu momen jelang turun minum, ia kehilangan konsentrasi. Bola di kakinya direbut Lampard yang mengoper ke Ramires. Gelandang Brasil ini jauh dari jangkauan lawan sesama Brasil, Dani Alves, dan melepaskan umpan silang ke Didier Drogba yang genius menuntaskan menjadi gol kemenangan.
Plus-minus
Salah satu syarat suksesnya permainan tanpa menguasai bola yakni tidak boleh terlalu sering membuat pelanggaran. Perlu konsentrasi tinggi dan kemampuan mental dalam bertahan dari tekanan lawan. Pelanggaran hanya akan memberi kesempatan lawan mendapat tendangan bebas. Jika itu terjadi di kotak penalti, risikonya serius: tendangan penalti!
Pemain Chelsea tercatat melakukan 11 pelanggaran sepanjang 90 menit itu, tetapi hanya dua kartu kuning yang mereka kantongi. Bermain tanpa harus menguasai bola, di sisi lain, sebenarnya juga memberi keuntungan. Secara fisik, anggota tim tidak terlalu lelah meski secara mental mungkin meletihkan.
Bagaimana dengan laga putaran kedua di Nou Camp, Selasa depan? Pelatih Barcelona Pep Guardiola secara berterus terang mengakui, hanya gol yang dihitung dalam laga sepak bola, bukan sekadar penguasaan bola. Sudut pandang pragmatis ini mungkin memengaruhi cara bermain Barcelona pekan depan. Bagaimana hasilnya? Kita tunggu dramanya.
Chelsea, yang belum pernah juara Eropa, salah satu dari sedikit tim yang mampu menerjemahkan imajinasi soal bagaimana meruntuhkan keperkasaan Barcelona. Permainan mereka saat memukul Barca 1-0 di Stamford Bridge pada laga putaran pertama semifinal Liga Champions, Kamis (19/4) dini hari WIB, mengingatkan taktik Inter Milan saat menyingkirkan klub Catalan itu di semifinal 2009/2010, soal bagaimana memenangkan laga tanpa harus menguasai bola.
Lihatlah statistik laga: Barcelona mencatat 72 persen penguasaan bola dengan menyelesaikan 782 passing berbanding 28 persen Chelsea dengan hanya 194 passing. Upaya Barcelona mencetak gol berjumlah 18 kali (enam kali tepat sasaran ke arah gawang) berbanding dengan upaya Chelsea yang hanya empat kali dan hanya satu tepat sasaran ke gawang tetapi menjadi gol. 1-0 untuk Chelsea!
Bagaimana cara memenangkan laga tanpa harus menguasai bola? Rumusan taktik itu pernah diulas kolumnis sepak bola Gabriele Marcotti dalam majalah Champions edisi Februari/ Maret 2011, yang merefleksi sukses Inter membekuk Barcelona di semifinal sebelum akhirnya menjuarai Eropa 2010.
Kunci sukses
Taktik itu bisa berjalan sukses dengan menghindari cara bertahan yang terlalu dalam, lalu mencegah untuk melakukan banyak pelanggaran. Bertahan terlalu dalam hanya akan mengundang lawan untuk terus menekan, yang satu-dua kesalahan bisa berisiko jebolnya gawang sendiri.
”Anda harus mampu menutup ruang gerak lawan seluas mungkin dan membatasi munculnya ancaman sebanyak mungkin,” demikian Roberto Di Matteo, pelatih sementara Chelsea, merumuskan taktik permainan timnya. ”Ini bukan soal lini pertahanan, melainkan usaha keras tim untuk tampil defensif.”
Pertahanan ”The Blues” telah disusun dari lini tengah. Chelsea bermain dengan tiga gelandang jangkar—Raul Meireles, Frank Lampard, dan John Obi Mikel— plus Juan Mata dan Ramires yang berposisi melebar. Lampard jarang naik dan lebih banyak beroperasi di area timnya.
Obi Mikel, yang biasa berperan gelandang bertahan untuk melapis lini belakang, justru sering naik untuk menetralisir sang maestro passing, Xavi Hernandez. Taktik ini, antara lain, yang membuat tiki-taka Barcelona mandul dan mejan.
Lionel Messi berhasil diisolasi dari rekan-rekannya. Ia terpaksa turun menjemput bola. Pada suatu momen jelang turun minum, ia kehilangan konsentrasi. Bola di kakinya direbut Lampard yang mengoper ke Ramires. Gelandang Brasil ini jauh dari jangkauan lawan sesama Brasil, Dani Alves, dan melepaskan umpan silang ke Didier Drogba yang genius menuntaskan menjadi gol kemenangan.
Plus-minus
Salah satu syarat suksesnya permainan tanpa menguasai bola yakni tidak boleh terlalu sering membuat pelanggaran. Perlu konsentrasi tinggi dan kemampuan mental dalam bertahan dari tekanan lawan. Pelanggaran hanya akan memberi kesempatan lawan mendapat tendangan bebas. Jika itu terjadi di kotak penalti, risikonya serius: tendangan penalti!
Pemain Chelsea tercatat melakukan 11 pelanggaran sepanjang 90 menit itu, tetapi hanya dua kartu kuning yang mereka kantongi. Bermain tanpa harus menguasai bola, di sisi lain, sebenarnya juga memberi keuntungan. Secara fisik, anggota tim tidak terlalu lelah meski secara mental mungkin meletihkan.
Bagaimana dengan laga putaran kedua di Nou Camp, Selasa depan? Pelatih Barcelona Pep Guardiola secara berterus terang mengakui, hanya gol yang dihitung dalam laga sepak bola, bukan sekadar penguasaan bola. Sudut pandang pragmatis ini mungkin memengaruhi cara bermain Barcelona pekan depan. Bagaimana hasilnya? Kita tunggu dramanya.
Sabtu, 07 April 2012
Terima Kasih Pep Untuk Mou
BARCELONA, KOMPAS.com - Pelatih Barcelona, Pep Guardiola, menyampaikan ucapan terima kasih kepada "seterunya", Jose Mourinho, yang telah memfavoritkan timnya untuk lolos ke final Liga Champions. Namun, Guardiola enggan sependapat dengan pelatih Real Madrid tersebut.
Pada tanggal 4 April kemarin, Mourinho mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya memprediksi Barcelona akan lolos ke final dengan menyingkirkan Chelsea. Apa alasannya? Sederhana, karena Barcelona tim yang kuat.
Entah apa alasan sebenarnya di balik pernyataan Mourinho ini. Yang pasti, Guardiola mengapresiasi pernyataan entrenador asal Portugal tersebut.
"Saya hanya bisa mengatakan terima kasih kepada Mourinho atas kepercayaannya terhadap Barcelona. Kami mengapresiasi bahwa dia berpikir kami bisa mencapai ke final. Meski demikian, empat tim (di semifinal) bisa lolos ke final," kata Guardiola.
"Apakah saya lelah dengan permainan pikiran? Tidak mereka bukanlah bagian dari pekerjaan," lanjutnya.
Guardiola wajar waspada, sebab lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan. Wakil Inggris tersebut pernah menyulitkan tim asal Catalan tersebut pada semifinal Liga Champions 2009/10. Guardiola pun menyadari, Chelsea adalah tim yang punya segudang pengalaman.
"Mereka selalu menjadi salah satu tim terbaik di beberapa tahun terakhir. Mereka punya pemain yang fantastis dan salah satu klub besar di Eropa. Chelsea bukan lawan mudah di tahap ini dalam kompetisi sebesar ini," ujar Guardiola.
Senin, 23 Januari 2012
'Guardiola Memandang Sepakbola dengan Cara Berbeda' - (Via detikSport)
Novitasari Dewi Salusi - detikSport
FOTO:Reuters
Senin, 23/01/2012 19:36 WIB
Barcelona - Setelah meraih berbagai kesuksesan sebagai pelatih Barcelona, Pep Guardiola mendapatkan pujian dari Gerard Pique. Ia menyebut pelatih berusia 41 tahun itu sebagai pelatih yang mempunyai visi berbeda dibanding pelatih lain.
Menangani Azulgrana sejak tahun 2008, Guardiola sudah mempersembahkan 13 gelar bagi tim asal Catalan itu. Kesuksesannya bersama Barca juga membuatnya diganjar penghargaan sebagai pelatih terbaik dunia versi FIFA tahun 2011 lalu.
Capaian Guardiola bersama Barca membuatnya menjadi pelatih yang spesial di mata Pique. Ia memuji bosnya itu sebagai pelatih yang berbeda dari pelatih kebanyakan.
"Di satu sisi, dia tidak melihat sepakbola seperti orang lain, dan dia menjelaskan lebih baik dibandingkan siapapun," ujar bek 24 tahun ini di situs resmi FIFA.
"Banyak pelatih yang hanya memberi tahu untuk bergerak ke kanan atau ke kiri, tapi dia memberi tahu alasannya, yang berarti Anda mengerti dengan jelas mengapa Anda melakukan sesuatu."
Selain memuji kepelatihan Guardiola, Pique juga menyebut pelatihnya itu sebagai motivator. Meski sudah memenangi banyak gelar, pemain yang juga kekasih dari penyanyi Shakira ini menilai Guardiola tak pernah membiarkan para pemainnya kehilangan rasa lapar akan gelar.
"Di atas itu, Anda tahu bagaimana dia memotivasi kami. Banyak tim yang sudah memenangi banyak gelar tapi kemudian kehilangan 'rasa laparnya', sedangkan kami semakin 'lapar' sepanjang waktu," tegasnya
Menangani Azulgrana sejak tahun 2008, Guardiola sudah mempersembahkan 13 gelar bagi tim asal Catalan itu. Kesuksesannya bersama Barca juga membuatnya diganjar penghargaan sebagai pelatih terbaik dunia versi FIFA tahun 2011 lalu.
Capaian Guardiola bersama Barca membuatnya menjadi pelatih yang spesial di mata Pique. Ia memuji bosnya itu sebagai pelatih yang berbeda dari pelatih kebanyakan.
"Di satu sisi, dia tidak melihat sepakbola seperti orang lain, dan dia menjelaskan lebih baik dibandingkan siapapun," ujar bek 24 tahun ini di situs resmi FIFA.
"Banyak pelatih yang hanya memberi tahu untuk bergerak ke kanan atau ke kiri, tapi dia memberi tahu alasannya, yang berarti Anda mengerti dengan jelas mengapa Anda melakukan sesuatu."
Selain memuji kepelatihan Guardiola, Pique juga menyebut pelatihnya itu sebagai motivator. Meski sudah memenangi banyak gelar, pemain yang juga kekasih dari penyanyi Shakira ini menilai Guardiola tak pernah membiarkan para pemainnya kehilangan rasa lapar akan gelar.
"Di atas itu, Anda tahu bagaimana dia memotivasi kami. Banyak tim yang sudah memenangi banyak gelar tapi kemudian kehilangan 'rasa laparnya', sedangkan kami semakin 'lapar' sepanjang waktu," tegasnya
Sabtu, 21 Januari 2012
Inilah Perayaan Ultah ke-41 Guardiola yang Unik
Sumber : Inilah.com
INILAH.COM, Barcelona - Cara unik dilakukan pelatih Barcelona Pep Guardiola untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-41. Pep mengundang seluruh jajaran staf pelatihnya untuk makan bersama.
Sejak mengambilalih tampuk kepemimpinan Barcelona di musim 2008, pelatih berkebangsaan Spanyol itu sukses memeberikan 13 gelar bagi Barca. Hal itu membuatnya didaulat sebagai salah satu pelatih tersukses dunia.
Sejak mengambilalih tampuk kepemimpinan Barcelona di musim 2008, pelatih berkebangsaan Spanyol itu sukses memeberikan 13 gelar bagi Barca. Hal itu membuatnya didaulat sebagai salah satu pelatih tersukses dunia.
Sabtu, 14 Januari 2012
Akar Tiki-Taka Guardiola
Sumber : INILAH.COM
INILAH.COM, Jakarta – Pemilik AC Milan, Silvio Berlusconi, berharap klubnya bisa memainkan sepakbola indah ala FC Barcelona. Berlusconi pasti ingat keindahan itu ketika trio Belanda (Marco van Basten, Frank Rijkaard dan Ruud Gulit) mengangkat AC Milan menjadi superklub dunia pada era 90-an.
Rabu, 04 Januari 2012
Milito: Guardiola Rahasia Kesuksesan Barcelona
Guardiola mendapat apresiasi dari Milito. (c) AFP
PEMAIN TERKAITTIM TERKAITFOTO PEMAIN TERKAITWALLPAPER TERKAIT
Bola.net - Barcelona merupakan salah satu tim dengan segudang prestasi. Mantan pemain Barcelona, Gabriel Milito menganggap bahwa prestasi mereka berkat sumbangsih Josep Guardiola.
Langganan:
Postingan (Atom)